Rabu, 24 Januari 2018

LIBURAN DI KAMPUNG SUKORAME #2





Pekan ini masih melanjutkan agenda liburan anak2 kampung sukorame. Penasaran serunya? Check it out!

DAY 7
Senin, 25 Desember 2017 saya merencanakan akan membuat gantungan kunci dan melukis kaligrafi dengan kanji. Jam 8 ada 2 anak kakak beradik datang. Kami terus menunggu, hingga jam 9 ada 7 anak yang hadir, sembari menunggu, seperti biasa saya persilahkan anak-anak untuk membaca buku dan ngobrol ringan tentang isi buku. Membaca buku-buku colourful bagi anak-anak lebih asyik. Ada yang beda saat saya sedikit menelisik kata ungkapan hati mereka. Anak- anak lebih tertarik membaca buku bacaan di almari, dari pada buku pelajaran, sekalipun buku tematik mereka juga colourful. Bahasa yang sederhanapun lebih mudah di pahami anak-anak. Dari celoteh mereka, membaca di sini tidak ada jeruji formalitas seragam, tugas dan angka. Alhamdulillah, ternyata selemari buku kami tak hanya bermanfaat buat fatih, tetapi juga buat anak-anak yang berkunjung ke rumah kami.
Kembali lagi ke kegiatan hari ini. 7 anak yang hadir telah bersiap membuat gantungan kunci. Kali ini anak-anak sedang rancu ide. Saya mengambil alih panggung tutorial lagi. Saya siapkan alat dan bahannya, ada kain flanel warna warni dan gantungan kunci. Melihat kemampuan anak-anak menjahit yang sederhana, saya tidak berani memberi tantangan menjahit untuk sebuah gantungan kunci yang harus selesai hari ini, karena besok saya akan membuat kegiatan kejutan. Saya teringat ide yang pernah mampir, membuat gantungan kunci baju dan diberi huruf inisial nama mereka. Alat bantu perekatnya menggunakan lem tembak.
Baiklah, saya ambil kertas bufalo bekas, dan membuat pattern baju perempuan dan kaos untuk laki-laki. Tapi semua boleh memilih dan boleh membuat lebih dari satu setelah karya pertama jadi. Set set set, pattern pun jadi. Anak-anak dipersilahkan memilih kain flanel sesuai warna selera dan menjiplak patternnya di atas flanel, sebanyak dua kali. Kemudian membuat inisial nama atau hiasan dengan kain flanel yang beda warna. Jika sudah siap, anak-anak akan mengantri belajar menggunakan glue gun atau lem tembak sendiri. “Wow wow wow... panas bu...” teriak mereka. Hati-hati ... dan sabar. Kita sedang belajar. Setelah tertempel, giliran saya yang merekatkan gantungan kunci dengan benang jahit. Satu persatu karya mereka jadi. Marketable? Jelas tidak. Tapi wajah mereka sumringah dengan hasil karyanya masing – masing. Cekrak-cekrek sana-sini sebagai dokumentasi pun tak terlewatkan. “Mau membuat lagi?” saya menggoda. Tidak bu... sudah capek. Hihihihi... hati saya jelas tertawa geli.
Di manakah fatih? Seperti biasa... dia asyik jadi mandor kecil. Mengawasi. Sesekali bilang, “aku mau bikin ya...”. saya jawab, “boleh, silahkan antri ya...”... kres kres kres... tanpa sepengetahuan saya. Flanel biru pun dipotongnya. Dan, “Umi... aku mbuat celana... ini yang kecil... bentar ya... aku mau mbuat yang besar.”  Aha... Masha Allah.. terima kasih ya Robb... lonjak hati saya kegirangan. “yang kecil buat adek, ini yang besar buat aku..”. Doa umik, semoga kalian senantiasa rukun, saling menghormati saling menghargai selamanya, nak....
                Setelah selesai membuat gantungan kunci, saya umumkan bahwa besok kita akan bermain taman lalu lintas. Yang punya sepeda, boleh di bawa, yang tidak punya akan dipinjami atau akan menjadi polisi.
“Horrray.....” seru mereka bersemangat. Mereka pulang sebelum adzan dzuhur berkumandang.

Day 8
Selasa, 26 Desember 2017 hari terakhir abi long weekend. Mumpung abi libur, saya mau simulasi sekaligus menjajal teamwork kami sebelum GRANDLAUNCHING DOLAN NANG FATHAtEN sebagai wadah changemaker family ala keluarga kami. Sengaja saya tidak mempersiapkan apa-apa sebelum jam 8. “assalamu’alaikum...” terdengar salam khas mereka dari luar. Beberapa menit kemudian teman yang lain datang dan datang lagi. Saya mengambil kertas bufalo aneka warna dan mulai berduskusi dengan mereka. Mereka menyebutkan rambu-rambu apa yang telah mereka ketahui. Lalu, saya mengajak mencari gambar rambu-rambu dasar via google. Selanjutnya kita menyepakati rambu-rambu apa saja yang akan dipelajari, dan membuat bersama-sama. Kerjasamapun semakin hangat. Ada yang menggambar rambu-rambu, ada yang menggunting, ada yang berinisiasi membuat zebra cross, ada pula yang ribut bahgaimana cara mainnya. Setelah semua perlengkapan siap, kami berdiskusi singkat. Anak-anak yang membawa sepeda menjadi pengendara, anak-anak yang tidak membawa sepeda menjadi penyebrang jalan, pembawa rambu-rambu dan juga polisi. Nanti akan bergantian posisi. Dan sepedaan seru pun dimulai.
START awal di sisi sebelum zebra cross. Beberapa anak yang menjadi penyebrang jalan bersiap-siap menyeberang sambil menunggu pembawa rambu mengangkat kertas merah (lampu lalu lintas). Saat lampu hijau diangkat, maka para pengendara melintas memulai perjalannya dengan bersepeda mengelilingi satu blok kampung. Fatih juga tidak mau ketinggalan turut menjadi pengendara bersama mas-mas dan mbak-mbak bermainnya. Saat para pengendara sedang di jalan, para pemegang rambu-rambu berdiskusi rambu mana yang akan di bawa dan apa artinya. Terpilihlah rambu lampu lalu lintas sebgai petunjuk, bahwa beberapa meter lagi akan ada lampu lalu lintas. Rambu-rambu terus dimainkan hingga putaran ketiga anak-anak memutuskan untuk STOP. Semua berhenti dan memarkir sepedanya, kemudian menikmati makanan ringan dan juga menghilangkan dahaga. Setelah dirasa cukup istirahatnya, mereka ingin bersepeda lagi dan 3 putaran pun dilalui. Total 2x3 putaran super heboh karena ternyata membuat warga bertanya tanya, ada apa/ hehehe.
Selepas bersepeda, anak-anak mengusulkan beberapa kegiatan untuk esoknya lagi. Fun cooking. Menggunakan kompor sambi momong bayi itu sangat beresiko, apalagi kami tidak bisa full team karena 27 Desember Pak Mabrur sudah masuk kerja. Akhirnya saya menawarkan membuat es. Mereka memilih membuat es jus buah dengan membawa gelas dan buah sendiri-sendiri. Oke... kita lanjutkan keseruan kita esok hari.

Day 9
Kesepakatan waktu membuat es jus buah bersama hari ini akan di mulai pukul 09.00 WIB. Pukul 8 kurang, anak-anak sudah mulai berdatangan. Ada yang beli es batu 1 bal, sada juga yang nitip gelas dan buahnya, ada yang merengek ke ibunya minta ikut karena ingin mencoba mblender.  Saya juga masih menerima tamu. Akhirnya, anak-anak yang hadir saya persilahkan membaca buku anak koleksi HEC Library.  Jam 9 lebih 10 menit kegiatan FUN COOKING di mulai. Anak-anak dikelompokkan ber-3, dan disilahkan mempersiapkan peralatannya. Blender, gula, susu, sendok, es batu, air mineral, gelas ukur dan saluran listrik sudah siap menemani. Anak-anak mulai mencuci, mengupas dan memototong buahnya masing-masing. Buahnya dari mana? ternyata tidak semuanya minta dibelikan orangtuanya. Ada yang berinisiatif manjat pohon mangga di rumahnya dan membagikan ke teman-temannya agar bisa ikut membuat es jus. Selain mangga, ada yang membawa buah naga, alpukat, dan jamu biji. Giliran membuat es jus buah pun tiba. Ndredeg... katanya. Hihihi... step sederhana saya sampaikan, dan tidak diulangi lagi. Kemudian anak-anak bereksperimen sendiri sesuai dengan step apa yang saya sampaikan. Tiap anak saling membantu. Kegiatan yang sederhana menjadi sangat istimewa bagi anak-anak, seperti memasukkan bahan-bahan seperti irisan buah, gula, susu, es batu, air mineral yang ditakar dengan gelas ukur, ke dalam  cerek blender. Kemudian menekan tombol, meikmati serunya getaran blender. “Bu.. seneng bu... “ kata salah satunya. Setelah jadi, saatnya menuang hati-hati ke gelasnya dan menikmati rasa es jus buah karyanya sendiri... hmmm... yummy... J Dan peserta selanjutnya dan selanjutnya pun membuat es jus buahnya sendiri bergantian. Saya tinggal cekrak cekrek saja dan menikmati celoteh mereka soal blender. Di rumahnya bukan tidak ada blender, tetapi kesempatan untuk mencoba alat ini belum pernah di berikan oleh orangtuanya. Bagi orangtua belajar adalah membaca buku dan menulis. Tapi sesungguhnya belajar bukan hanya itu. Saya jadi belajar lagi hari ini. saat kita tidak mempersilahkan anak untuk belajar apa yang ingin dia pelajari, di situ sebenarnya kita mematikan ‘lampu jalan’ fitrah belajar anak. Atau, bisa jadi, bahkan mematikan ‘lampu jalan’ cita-cita anak.
                Seperti biasa, sebelum pulang anak-anak berdiskusi, besok akan bermain apa. Permainan tradisional pun di sepakati. Baiklah, sampai jumpa besok.. kita akan bermain bersama.

Day 10
Hari ini saya umumkan hari terakhir main di rumah kami untuk liburan kali ini, karena beberapa hari ke depan akan membantu tetangga dan saudara yang nikahan. Raut wajah mereka agak kecewa. Adapula yang menawar, “tanggal 1 Januari kan libur, kita mainan ya bu... “ saya balas tawarannya dengan project keluarga DOLAN NANG FATHAtEN yang Insha Allah akan dilaksanakan setiap bulan selama tahun 2018. “Horeeee....” seru mereka. Agenda permainan tradisional hari ini pun saya serahkan sepenuhnya kepada anak-anak. Saya ingin mencoba menjadi pesertanya juga, sambil mendokumentasikan tingkah seru anak-anak. Terpilih 3 jenis permainan, yaitu boi-boian, lompat tali dan engkle.
BOI-BOIAN. Dimulai dengan memilih sandal untuk disusun dan alat pelempar. Kemudian proses seleksi dengan hom. “Hompimpa alaiyom gambreng. Hooombreng. Hooombreng...” terpilihlah 1 penjaga, dan 1 pelempar sandal. Yang lain bediri dibelakang pelempar. Jika pelempar sekali lempar tidak mengenai sandal, maka harus berpindah antri di belakang. Jika mengenai sandal yang disusun kemudian roboh, maka semua peserta akan berlari dan si penjaga sandal akan melempar sandalnya ke arah para pelempar. Kerjasama dibutuhkan di sini, beberapa anak memancing penjaga, beberapa anak lainnya menyusun  sandal kembali. Jika sandal mengenai salah satu anak, maka penjaga sandal yang tadinya mengejar temannya bisa menjadi pelempar bersama teman-teman lainnya dan anak yang terkena sandal ganti menjadi penjaga. Jika sandal berhasil disusun, maka yang menyusun akan teriak dengan kencang “boi-boi-boi-boi”. Dan penjaga sandal tetap menjadi penajaga (lagi). Permainan selesai manakala semuanya bersepakat dengan bilang “Buyar rek...”  rehat sejenak, kemudian lanjut lagi..
LOMPAT TALI. Anak-anak lebih fleksibel dengan permainan ini. Proses seleksi hampir sama dengan permainan sebelumnya, yaitu dengan hompimpa. Kemudian terpilih dua orang menjadi pemegang tali, dan yang lainnya menjadi pemain. Ada kesepatan, satu sisi menjadi rumah tempat mulai dan pulang. Tali direntangkan melintang dan di letakkan di kaki, lutut kepala pemegang tali yang sambil duduk. Tali diibaratkan seperti api, tidak boleh mengenai baju atau badan. Kemudian dilanjutkan dengan berdiri, tali diletakkan di sisi lutut,pinggang dan pundak, dan kepala tidak boleh mengenai telapak kaki. Jika pemain melanggar/mengenai tali sesuai dengan ketentuan, maka pemain akan menjadi pemegang tali. Dan begitu seterusnya. Keseruanpun berlanjut saat tali semakin tinggi. Maka gaya sepeda motor dan gaya kupu-kupu menjadi andalan agar bisa melintasi tali tanpa terkena telapak kaki. Hihihi.. aseli bikin saya nostalgia masa kanak-kanak.
ENGKLE. Permainan dimulai dengan menggambar orang-orangan di atas jalan dengan kapur bata dan memilih tabak andalan. Sandal masing-masing anak menjadi tabaknya. Mereka menentukan urutan pemain dengan cara hompimpa dan suit. Lalu mereka bermain sesuai urutan. Peraturan kaki dan tabak tak boleh menyentuh garis  sangat  menentukan berhasil atau tidaknya pemainan ini. Pemain pertama melempar tabak ke kotak pertama, jika tidak mengenai garis, maka pemain melanjutkan dengan engkle tanpa melewati kotak yang ada tabaknya. Jika tabak meleset dari kotak atau kaki pemain mengenai garis, maka pemain ini gagal melanjutkan. Dan pemain urutan berikutnya yang bermain engkle dengan ketentuan yang sama. Jika semua kota telah di lewati, pemain menutup mata dan melintasi kotak demi kotak, berusaha tidak mengenai garis sambil teriak, “yaak.. yaak.. yaak..” jika mengenai garis, maka gagal. Jika berhasil sesi yak yak an, pemain melanjutkan dengan melempar batu ke arah kotak sambil berbalik. Ini sesi yang paling menegangkan. Karena, jika berhasil, maka kotak tersebut menjadi “rumah” si pelempar dan pemain  yang lain tidak boleh menginjaknya. Tak jarang mereka berdoa sebelum melempar tabak. Hihihi...
Permainan tradisional, selain mengajarkan anak-anak bersosialisasi dengan sebayanya, juga mengajarkan anak-anak akan pentingnya nilai kejujuran, tanggungjawab dengan peraturan sederhana, bekerjasama,  juga menghargai kepemilikan. Asyik kan....
Demikian keseruan liburan di kampung sukorame (Usman Sadar Gg 13 B)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]