Pekan ini masih
melanjutkan agenda liburan anak2 kampung sukorame. Penasaran serunya? Check it
out!
DAY 7
Senin, 25 Desember 2017 saya merencanakan akan membuat gantungan kunci
dan melukis kaligrafi dengan kanji. Jam 8 ada 2 anak kakak beradik datang. Kami
terus menunggu, hingga jam 9 ada 7 anak yang hadir, sembari menunggu, seperti
biasa saya persilahkan anak-anak untuk membaca buku dan ngobrol ringan tentang
isi buku. Membaca buku-buku colourful bagi anak-anak lebih asyik. Ada yang beda
saat saya sedikit menelisik kata ungkapan hati mereka. Anak- anak lebih
tertarik membaca buku bacaan di almari, dari pada buku pelajaran, sekalipun
buku tematik mereka juga colourful. Bahasa yang sederhanapun lebih mudah di
pahami anak-anak. Dari celoteh mereka, membaca di sini tidak ada jeruji
formalitas seragam, tugas dan angka. Alhamdulillah, ternyata selemari buku kami
tak hanya bermanfaat buat fatih, tetapi juga buat anak-anak yang berkunjung ke
rumah kami.
Kembali lagi ke kegiatan hari ini. 7 anak yang hadir telah bersiap
membuat gantungan kunci. Kali ini anak-anak sedang rancu ide. Saya mengambil
alih panggung tutorial lagi. Saya siapkan alat dan bahannya, ada kain flanel
warna warni dan gantungan kunci. Melihat kemampuan anak-anak menjahit yang
sederhana, saya tidak berani memberi tantangan menjahit untuk sebuah gantungan
kunci yang harus selesai hari ini, karena besok saya akan membuat kegiatan
kejutan. Saya teringat ide yang pernah mampir, membuat gantungan kunci baju dan
diberi huruf inisial nama mereka. Alat bantu perekatnya menggunakan lem tembak.
Baiklah, saya ambil kertas bufalo bekas, dan membuat pattern baju perempuan
dan kaos untuk laki-laki. Tapi semua boleh memilih dan boleh membuat lebih dari
satu setelah karya pertama jadi. Set set set, pattern pun jadi. Anak-anak
dipersilahkan memilih kain flanel sesuai warna selera dan menjiplak patternnya
di atas flanel, sebanyak dua kali. Kemudian membuat inisial nama atau hiasan
dengan kain flanel yang beda warna. Jika sudah siap, anak-anak akan mengantri
belajar menggunakan glue gun atau lem tembak sendiri. “Wow wow wow... panas
bu...” teriak mereka. Hati-hati ... dan sabar. Kita sedang belajar. Setelah
tertempel, giliran saya yang merekatkan gantungan kunci dengan benang jahit.
Satu persatu karya mereka jadi. Marketable? Jelas tidak. Tapi wajah mereka
sumringah dengan hasil karyanya masing – masing. Cekrak-cekrek sana-sini
sebagai dokumentasi pun tak terlewatkan. “Mau membuat lagi?” saya menggoda.
Tidak bu... sudah capek. Hihihihi... hati saya jelas tertawa geli.
Di manakah fatih? Seperti biasa... dia asyik jadi mandor kecil.
Mengawasi. Sesekali bilang, “aku mau bikin ya...”. saya jawab, “boleh, silahkan
antri ya...”... kres kres kres... tanpa sepengetahuan saya. Flanel biru pun
dipotongnya. Dan, “Umi... aku mbuat celana... ini yang kecil... bentar ya...
aku mau mbuat yang besar.” Aha... Masha
Allah.. terima kasih ya Robb... lonjak hati saya kegirangan. “yang kecil buat
adek, ini yang besar buat aku..”. Doa umik, semoga kalian senantiasa rukun,
saling menghormati saling menghargai selamanya, nak....
Setelah selesai membuat
gantungan kunci, saya umumkan bahwa besok kita akan bermain taman lalu lintas.
Yang punya sepeda, boleh di bawa, yang tidak punya akan dipinjami atau akan
menjadi polisi.
“Horrray.....”
seru mereka bersemangat. Mereka pulang sebelum adzan dzuhur berkumandang.
Day 8
Selasa, 26 Desember 2017 hari terakhir abi long weekend. Mumpung abi
libur, saya mau simulasi sekaligus menjajal teamwork kami sebelum
GRANDLAUNCHING DOLAN NANG FATHAtEN sebagai wadah changemaker family ala
keluarga kami. Sengaja saya tidak mempersiapkan apa-apa sebelum jam 8.
“assalamu’alaikum...” terdengar salam khas mereka dari luar. Beberapa menit
kemudian teman yang lain datang dan datang lagi. Saya mengambil kertas bufalo
aneka warna dan mulai berduskusi dengan mereka. Mereka menyebutkan rambu-rambu
apa yang telah mereka ketahui. Lalu, saya mengajak mencari gambar rambu-rambu
dasar via google. Selanjutnya kita menyepakati rambu-rambu apa saja yang akan
dipelajari, dan membuat bersama-sama. Kerjasamapun semakin hangat. Ada yang
menggambar rambu-rambu, ada yang menggunting, ada yang berinisiasi membuat
zebra cross, ada pula yang ribut bahgaimana cara mainnya. Setelah semua
perlengkapan siap, kami berdiskusi singkat. Anak-anak yang membawa sepeda
menjadi pengendara, anak-anak yang tidak membawa sepeda menjadi penyebrang
jalan, pembawa rambu-rambu dan juga polisi. Nanti akan bergantian posisi. Dan
sepedaan seru pun dimulai.
START awal di sisi sebelum zebra cross. Beberapa anak yang menjadi
penyebrang jalan bersiap-siap menyeberang sambil menunggu pembawa rambu
mengangkat kertas merah (lampu lalu lintas). Saat lampu hijau diangkat, maka
para pengendara melintas memulai perjalannya dengan bersepeda mengelilingi satu
blok kampung. Fatih juga tidak mau ketinggalan turut menjadi pengendara bersama
mas-mas dan mbak-mbak bermainnya. Saat para pengendara sedang di jalan, para
pemegang rambu-rambu berdiskusi rambu mana yang akan di bawa dan apa artinya.
Terpilihlah rambu lampu lalu lintas sebgai petunjuk, bahwa beberapa meter lagi
akan ada lampu lalu lintas. Rambu-rambu terus dimainkan hingga putaran ketiga
anak-anak memutuskan untuk STOP. Semua berhenti dan memarkir sepedanya,
kemudian menikmati makanan ringan dan juga menghilangkan dahaga. Setelah dirasa
cukup istirahatnya, mereka ingin bersepeda lagi dan 3 putaran pun dilalui. Total
2x3 putaran super heboh karena ternyata membuat warga bertanya tanya, ada apa/
hehehe.
Selepas bersepeda, anak-anak mengusulkan beberapa kegiatan untuk esoknya
lagi. Fun cooking. Menggunakan kompor sambi momong bayi itu sangat beresiko, apalagi
kami tidak bisa full team karena 27 Desember Pak Mabrur sudah masuk kerja.
Akhirnya saya menawarkan membuat es. Mereka memilih membuat es jus buah dengan
membawa gelas dan buah sendiri-sendiri. Oke... kita lanjutkan keseruan kita
esok hari.
Day 9
Kesepakatan waktu membuat es jus buah bersama hari ini akan di mulai
pukul 09.00 WIB. Pukul 8 kurang, anak-anak sudah mulai berdatangan. Ada yang
beli es batu 1 bal, sada juga yang nitip gelas dan buahnya, ada yang merengek
ke ibunya minta ikut karena ingin mencoba mblender. Saya juga masih menerima tamu. Akhirnya,
anak-anak yang hadir saya persilahkan membaca buku anak koleksi HEC Library. Jam 9 lebih 10 menit kegiatan FUN COOKING di
mulai. Anak-anak dikelompokkan ber-3, dan disilahkan mempersiapkan
peralatannya. Blender, gula, susu, sendok, es batu, air mineral, gelas ukur dan
saluran listrik sudah siap menemani. Anak-anak mulai mencuci, mengupas dan
memototong buahnya masing-masing. Buahnya dari mana? ternyata tidak semuanya
minta dibelikan orangtuanya. Ada yang berinisiatif manjat pohon mangga di
rumahnya dan membagikan ke teman-temannya agar bisa ikut membuat es jus. Selain
mangga, ada yang membawa buah naga, alpukat, dan jamu biji. Giliran membuat es jus
buah pun tiba. Ndredeg... katanya. Hihihi... step sederhana saya sampaikan, dan
tidak diulangi lagi. Kemudian anak-anak bereksperimen sendiri sesuai dengan
step apa yang saya sampaikan. Tiap anak saling membantu. Kegiatan yang
sederhana menjadi sangat istimewa bagi anak-anak, seperti memasukkan
bahan-bahan seperti irisan buah, gula, susu, es batu, air mineral yang ditakar
dengan gelas ukur, ke dalam cerek
blender. Kemudian menekan tombol, meikmati serunya getaran blender. “Bu..
seneng bu... “ kata salah satunya. Setelah jadi, saatnya menuang hati-hati ke
gelasnya dan menikmati rasa es jus buah karyanya sendiri... hmmm... yummy... J Dan peserta
selanjutnya dan selanjutnya pun membuat es jus buahnya sendiri bergantian. Saya
tinggal cekrak cekrek saja dan menikmati celoteh mereka soal blender. Di
rumahnya bukan tidak ada blender, tetapi kesempatan untuk mencoba alat ini
belum pernah di berikan oleh orangtuanya. Bagi orangtua belajar adalah membaca
buku dan menulis. Tapi sesungguhnya belajar bukan hanya itu. Saya jadi belajar
lagi hari ini. saat kita tidak mempersilahkan anak untuk belajar apa yang ingin
dia pelajari, di situ sebenarnya kita mematikan ‘lampu jalan’ fitrah belajar
anak. Atau, bisa jadi, bahkan mematikan ‘lampu jalan’ cita-cita anak.
Seperti biasa, sebelum pulang
anak-anak berdiskusi, besok akan bermain apa. Permainan tradisional pun di
sepakati. Baiklah, sampai jumpa besok.. kita akan bermain bersama.
Day 10
Hari ini saya umumkan hari terakhir main di rumah kami untuk liburan kali
ini, karena beberapa hari ke depan akan membantu tetangga dan saudara yang
nikahan. Raut wajah mereka agak kecewa. Adapula yang menawar, “tanggal 1
Januari kan libur, kita mainan ya bu... “ saya balas tawarannya dengan project
keluarga DOLAN NANG FATHAtEN yang Insha Allah akan dilaksanakan setiap bulan
selama tahun 2018. “Horeeee....” seru mereka. Agenda permainan tradisional hari
ini pun saya serahkan sepenuhnya kepada anak-anak. Saya ingin mencoba menjadi
pesertanya juga, sambil mendokumentasikan tingkah seru anak-anak. Terpilih 3
jenis permainan, yaitu boi-boian, lompat tali dan engkle.
BOI-BOIAN. Dimulai dengan memilih sandal untuk disusun dan alat pelempar.
Kemudian proses seleksi dengan hom. “Hompimpa
alaiyom gambreng. Hooombreng. Hooombreng...” terpilihlah 1 penjaga, dan 1
pelempar sandal. Yang lain bediri dibelakang pelempar. Jika pelempar sekali
lempar tidak mengenai sandal, maka harus berpindah antri di belakang. Jika
mengenai sandal yang disusun kemudian roboh, maka semua peserta akan berlari
dan si penjaga sandal akan melempar sandalnya ke arah para pelempar. Kerjasama
dibutuhkan di sini, beberapa anak memancing penjaga, beberapa anak lainnya
menyusun sandal kembali. Jika sandal
mengenai salah satu anak, maka penjaga sandal yang tadinya mengejar temannya
bisa menjadi pelempar bersama teman-teman lainnya dan anak yang terkena sandal
ganti menjadi penjaga. Jika sandal berhasil disusun, maka yang menyusun akan
teriak dengan kencang “boi-boi-boi-boi”.
Dan penjaga sandal tetap menjadi penajaga (lagi). Permainan selesai manakala
semuanya bersepakat dengan bilang “Buyar
rek...” rehat sejenak, kemudian
lanjut lagi..
LOMPAT TALI. Anak-anak lebih fleksibel dengan permainan ini. Proses
seleksi hampir sama dengan permainan sebelumnya, yaitu dengan hompimpa.
Kemudian terpilih dua orang menjadi pemegang tali, dan yang lainnya menjadi
pemain. Ada kesepatan, satu sisi menjadi rumah tempat mulai dan pulang. Tali
direntangkan melintang dan di letakkan di kaki, lutut kepala pemegang tali yang
sambil duduk. Tali diibaratkan seperti api, tidak boleh mengenai baju atau
badan. Kemudian dilanjutkan dengan berdiri, tali diletakkan di sisi
lutut,pinggang dan pundak, dan kepala tidak boleh mengenai telapak kaki. Jika
pemain melanggar/mengenai tali sesuai dengan ketentuan, maka pemain akan
menjadi pemegang tali. Dan begitu seterusnya. Keseruanpun berlanjut saat tali
semakin tinggi. Maka gaya sepeda motor dan gaya kupu-kupu menjadi andalan agar
bisa melintasi tali tanpa terkena telapak kaki. Hihihi.. aseli bikin saya nostalgia
masa kanak-kanak.
ENGKLE. Permainan dimulai dengan menggambar orang-orangan di atas jalan
dengan kapur bata dan memilih tabak andalan. Sandal masing-masing anak menjadi
tabaknya. Mereka menentukan urutan pemain dengan cara hompimpa dan suit. Lalu
mereka bermain sesuai urutan. Peraturan kaki dan tabak tak boleh menyentuh
garis sangat menentukan berhasil atau tidaknya pemainan
ini. Pemain pertama melempar tabak ke kotak pertama, jika tidak mengenai garis,
maka pemain melanjutkan dengan engkle tanpa melewati kotak yang ada tabaknya.
Jika tabak meleset dari kotak atau kaki pemain mengenai garis, maka pemain ini
gagal melanjutkan. Dan pemain urutan berikutnya yang bermain engkle dengan
ketentuan yang sama. Jika semua kota telah di lewati, pemain menutup mata dan
melintasi kotak demi kotak, berusaha tidak mengenai garis sambil teriak,
“yaak.. yaak.. yaak..” jika mengenai garis, maka gagal. Jika berhasil sesi yak
yak an, pemain melanjutkan dengan melempar batu ke arah kotak sambil berbalik.
Ini sesi yang paling menegangkan. Karena, jika berhasil, maka kotak tersebut
menjadi “rumah” si pelempar dan pemain
yang lain tidak boleh menginjaknya. Tak jarang mereka berdoa sebelum
melempar tabak. Hihihi...
Permainan tradisional, selain mengajarkan anak-anak bersosialisasi dengan
sebayanya, juga mengajarkan anak-anak akan pentingnya nilai kejujuran,
tanggungjawab dengan peraturan sederhana, bekerjasama, juga menghargai kepemilikan. Asyik kan....
Demikian keseruan liburan di kampung sukorame (Usman Sadar Gg 13 B)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar