Rabu, 24 Januari 2018

TEKA-TEKI KOMPROD DAN KEMANDIRIAN ANAK



Rabu, 24 Januari 2018


Berkomunikasi produktif dengan pasangan dan anggota keluarga, dalam prakteknya memiliki tujuan agar apa yang kamu mau dan aku mau menjadi apa yang kita mau. Ada gado-gado nuansa saat harus mengatur ritme arus informasi dan ide yang memenuhi kepala, memilih cara menyampaikan info dan ide agar mudah dipahami, di koreksi atau bahkan diterima. Kemudian memilih diam saat dalam amarah, memberi ruang privasi untuk berfikir jernih, melatih lisan agar materi ngomel menjadi bahan diskusi keluarga, termasuk penyemangat baru akhir-akhir ini adalah menyalurkan ngomel dengan jari jemari di depan laptop atau notepad telepon pintar. Tahan lisan umik.. tahan lisan... puasa marah. Marahlah dengan elegan. Begitulah seterusnya kalimat2ini menggaung di kepala terhitung
sejak bulan september 2018.

Komunikasi produktif ini ternyata juga menjadi kunci kemandirian anak. Sibling rivalry pasca lahirnya adek kembar masih menggelayuti hari-hari. Memantik kemandirian yang abi umik latihkan hilang byar saat adek lahir. Rewel, manja, amarah meningkat, minta perhatian lebih membuat abi umi kalut dan memilih mengamati saja semua proses latih kemandirian. Beberapa cheklist yang dulu berhasil seperti makan sendiri, ambil minum sendiri, pakai baju sendiri dan lainnya yang umik buat dan hampir semuanya penuh, hilang sudah ceklistnya. Abi umik terus berinstropeksi. Mencoba kunci komunikasi produktif ditengah tinggal dalam keluarga besar. Umik belajar bersikap seimbang antara mau nenek dan mau cucu. Mencoba menjadi penengah saat mereka berselisih paham, tanpa menyudutkan salah satunya. Jika melayani ibu, juga melayani anak pun sebaliknya. Mengambil hati ibu yang sudah berpengalaman ber home education tanpa teori, agar ikut aware dengan pola pengasuhan berbasis fitrah. Mengajak anak mencintai neneknya dan mengajak ibu untuk memaafkan kelincahan cucunya. Teriakan demi teriakan masih sering memekakan telinga. Tapi Allah memperlihatkan kuasanya. Kehadiran saya, umiknya Fatih dan anaknya bu Asroh, bagai hakim saat mereka berselisih maksud. “Ojok ngene.. ojok ngono...” dengan alasan diluar nalar  kerap disampaikan nenek ke  cucunya. Alhamdulillah cucunya selalu meminta pendapat ibunya tentang apa dan bagaimana kebenarannya. Berarti ada indikasi sang anak memiliki kepercayaan yang besar kepada ibunya. Dan ini dimaknai sebagai keberhasilan komunikasi produktif. Semoga umik bisa memegang kepercayaanmu naak...

Alhamdulillah ala qudrotillah, pekan ini Allah menjawab teka teki latih kemandirian dan komunikasi produktif. Latih kemandirian yang dulu masih terekam bagus, dan di perbagus dengan kesadaran berkat komunikasi produktif.

Ahad, Fatih mulai bisa bersepeda roda dua.
Senin, Fatih mau makan sendiri
Selasa, Fatih mau pakai baju sendiri
Rabu, Fatih istinjak dari BAK sendiri dan mandi sendiri

Dalam proses latihnya tak mungkin langsung dibiarkan bisa dengan semaunya begitu saja. Ada etika dan estetika yang sudah bisa dilatihkan pada tiap poin kemandirian di usia 4 tahunnya. Seperti untuk poin Fatih bisa makan sendiri, mengambil makanan di meja makan, makan dengan duduk tenang dan diawali dengan berdoa, menikmati makanan tanpa bermain/ gadget/ ngobrol, berdoa sesudah makan, membuang sisa makanan di sampah, meletakkan piring kotor di wastafel, mencuci tangan dan minum. Poin minum juga ada etika dan estetika yang harus dilatihkan.  Sepekan ini, akan mengamati dahulu, poin kemandirian apa saja yang akan dilakukan Fatih dengan kesadaran dan kemauannya. Baru pekan depan akan fokus pada 1-2 poin kemandirian berikut etika dan estetikanya.

Bismillahi laa haula wa laa quwwata illa billah...

Sukorame-Gresik, 012418
Di Bilik Pesantren Peradaban
FATHAtEN Family

Oleh:
::: Umik Ninis:::

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]