LIBURAN DI KAMPUNG
Hari Sabtu, 16 Desember 2017 anak-anak usia sekolah dasar di
kampung kami terima raport akhir semester. Semua saling berbagi cerita. Ada yang
senang karena dapat nilai-nilai yang memuaskan, ada yang kecewa, juga ada yang
menanggapi biasa saja. Ditengah serunya ngobrol, saya iseng bertanya, liburan
besok mau kemana? Sebagian besar merencanakan liburan dirumah saja. Lalu mau
ngapain? Main hape. Jawaban standard. Saya pun balik cerita, kalau dulu pas
liburan, bu Ninis diajari emak Roh (Ibu) bikin tas, bikin baju, cuci baju atau masak.
Ayo-ayo bu bikin tas, kata mereka. Wow, ditodong balik. Karena anak-anak ini
belum bisa jahit pakai mesin, saya tawarkan bagaimana kalau kita membuat tepak.
Ternyata semua sepakat dan wajah- wajahnya sumringah. Saya janjikan, besok
datang jam 9 pagi, bawa kain atau baju bekas yang sudah jelek atau tidak
terpakai.
Day 1
Ahad pagi kami ada agenda jalan2 pagi, sampai di rumah pukul
09.20. Ternyata 6 orang anak (5 perempuan, 1 laki-laki) sudah siap, menanti
sambil membawa kain dan baju bekas. Ada juga yang membawa beberapa lembar kain
flanel beberapa warna lengkap dengan manik-maniknya. Saya pun bingung mau dimulai dari mana. Akhirnya,
kami berdiskusi akan membuat tepak yang berbentuk seperti apa, dengan ukuran
seberapa. Setelah tahu bayangan tepak yang diinginkan, kami membuat pattern
/mal pada kertas. Setelah semuanya punya pattern, anak-anak memotong kain /
baju bekasnya. Dan saya juga menyiapkan kain perca jenis drill warna merah. 2
pieces kain bakal bikin tepak sudah siap. Proses memotong pattern dan 2 lembar kain ini ternyata cukup menguras lama,
tapi mereka menikmati. Jam adzan dzuhur pun mendekati, dan kami bersepakat
untuk melanjutkan esok hari.
Day 2
Senin sebelum jam 9 anak-anak sudah tidak sabar melanjutkan karyanya.
Hari ini yang hadir 4 orang, yang satunya ada kegiatan pencak silat disekolah,
satunya lagi diajak mamaknya pulang kampung. Agenda hari ini adalah belajar
menjahit dengan tangan dengan cara tusuk jelujur. Jahit menjahit pun dimulai. Semua
step benar-benar menjadi proses belajar bagi anak-anak. Mulai mengambi benang,
memasukkan benang ke jarum, menggabung dan motong benang, terakhir mbundeli. Dilanjutkan
dengan usaha membuat jahitan yang lurus. Benar-benar menguras tenaga dan
kesabaran anak-anak. “Yak opo bu....” kalimat tanya ini berkali-kali mampir. Saya
menekankan agar anak-anak sabar dengan proses menjahitnya, seperti halnya adek
bayi yang awalnya tidak bisa berjalan, dia tetap berusaha belajar meskipun
berkali-kali terjatuh hingga akhirnya bisa berjalan bahkan berlari.
Hari ke 2 ini ada yang sukses njahit sisi samping, ada pula yang masih belum semuanya selesai. Tepak kain sudah setengah jadi. Merekapun tambah sumringah, namun waktu adzan dzuhur sudah dekat dan kami kembali bersepakat melanjutkan esok hari. Selesai kegiatan, saya share ke grup wali murid anak-anak les yang kebetulan juga ada beberepa tetangga dekat.
Hari ke 2 ini ada yang sukses njahit sisi samping, ada pula yang masih belum semuanya selesai. Tepak kain sudah setengah jadi. Merekapun tambah sumringah, namun waktu adzan dzuhur sudah dekat dan kami kembali bersepakat melanjutkan esok hari. Selesai kegiatan, saya share ke grup wali murid anak-anak les yang kebetulan juga ada beberepa tetangga dekat.
Day 3
Selasa pagi ini yang hadir hanya 3 orang, karena yang
satunya lagi ada les di sekolah. Anak-anak
melanjutkan menjahit sisi samping, bawah dan penutupnya. 3 orang ini kedatangan
anak-anak les, yang sudah tidak asing lagi bagi anak-anak sebelumnya. Meskipun mereka
belum berkenalan, anak-anak les ini sudah saling tau karena sama-sama berjamaah
saat sholat isya’ (waktu istirahat les). Tepak hasil karya anak-anak ini
membuat anak-anak yang baru datang juga ingin membuatnya.
Karena tepak sudah mau selesai, akhirnya kami bersepakat membuat bros dari flanel. Yang sudah membuat tepak, melanjutkan menjahit bagian penutupnya. Anak laki-laki memilih bermain bola dan badminton di depan rumah sama Fatih. Bros pun mih dalam tahap pemilihan model dan bahan. Setelah selesai anak-anak les minta nambah hafalan perkalian. Baiklah... dan acara bermain pun berakhir hingga adzan dzuhur berkumandang.
Karena tepak sudah mau selesai, akhirnya kami bersepakat membuat bros dari flanel. Yang sudah membuat tepak, melanjutkan menjahit bagian penutupnya. Anak laki-laki memilih bermain bola dan badminton di depan rumah sama Fatih. Bros pun mih dalam tahap pemilihan model dan bahan. Setelah selesai anak-anak les minta nambah hafalan perkalian. Baiklah... dan acara bermain pun berakhir hingga adzan dzuhur berkumandang.
Day 4
Karena anak-anak les juga datang, ada request dari wali
murid untuk belajar. Maka saya juga membuat kelas matematika dasar (perkalian)
dan percakapan bahasa Inggris sebelum bermain bersama. Yang hadir hari ini
semakin banyak, ada 11 orang. Anak laki-laki bermain sepak bola dan badminton. Anak-anak
makin semangat karena ada net buatan di halaman rumah Pak Haji Mimin (depan
rumah). Fatih pun turut bermain badminton. Tunggal putra dan ganda putra
dicobanya berikut wasit dan penontonnya.
Yang perempuan masih asyik dengan rencana membuat brossnya. Akhirnya anak-anak perempuan saya beri contoh membuat bros sederhana dari kain flanel.
Mereka semua sepakat dan mulai membuat. Proses belajar memotong flanel dengan lurus tanpa penggaris, kemudian belajar menjahit dengan tusuk jelujurpun membuat mereka khusyuk. Hingga akan adzan dhuhur proses membuat bross belum selesai. Mereka ingin melanjutkan, tapi saya harus konsisten dengan panggilan adzan, saya cut, dan bersepakat akan melanjutkan esok hari. Anak-anak mengusulkan agar boleh datang lebih pagi agar bisa belajar, juga bermain. Saya pun tidak mampu untuk tidak men-iyakan usulan mereka. Apalagi kehadiran anak-anak ini bisa mengalihkan Fatih dari bermain gadget. Akhirnya, kami bersepakat, besok akan dimulai jam 8. Jam8-9 belajar perkalian dan percakapan, jam 9-11 bermain.
Yang perempuan masih asyik dengan rencana membuat brossnya. Akhirnya anak-anak perempuan saya beri contoh membuat bros sederhana dari kain flanel.
Mereka semua sepakat dan mulai membuat. Proses belajar memotong flanel dengan lurus tanpa penggaris, kemudian belajar menjahit dengan tusuk jelujurpun membuat mereka khusyuk. Hingga akan adzan dhuhur proses membuat bross belum selesai. Mereka ingin melanjutkan, tapi saya harus konsisten dengan panggilan adzan, saya cut, dan bersepakat akan melanjutkan esok hari. Anak-anak mengusulkan agar boleh datang lebih pagi agar bisa belajar, juga bermain. Saya pun tidak mampu untuk tidak men-iyakan usulan mereka. Apalagi kehadiran anak-anak ini bisa mengalihkan Fatih dari bermain gadget. Akhirnya, kami bersepakat, besok akan dimulai jam 8. Jam8-9 belajar perkalian dan percakapan, jam 9-11 bermain.
Day 5
Kamis seru, anak-anak hadir jam 8 dan kita belajar perkalian
dan percakapan bahasa Inngris. Setelah usai, saya mengajak anak-anak
berdiskusi, menngali keinginan mereka, dan mengenali kegiatan apa yang ingin
mereka lakukan untuk mengisi liburan. Ada yang mengusulkan percobaan sains,
seperti gunung meletus, proses perubahan zat, membuat garam, ada juga yang mengususlkan membuat gantungan
kunci, bross, playdough, slime, sepedaan, sepak bola, badmintonan lagi, Fun
cooking, permainan tradisional seperti fun cooking, petak umpet, engkle, gobak
sodor, boi-boian, dan ada pula yang mengusulkan kegiatan menanam. Saya tulis di
papan tulis sebagai bentuk apresiasi.
Setelah berdiskusi, kami mendaftar bahan-bahan apa saja yang
dibutuhkan dan menawarkan siapa yang bersedia membantu membelikan semua bahan
di pasar. Anak laki-laki semua bersepakat untuk membelikannya dengan bersepeda.
Dan anak perempuan melanjutkan karyanya membuat bross. Satu jam anak-anak
laki-laki kembali dengan membawa bahan lengkap. Dan bros yang dibuat anak
perempuan sudah jadi. Saya pun mengapresiasi kerjasama dan keberaniaan anak2
laki dengan memberikan bross. “ Buat apa bu?” tanya mereka. Aha.... saya
mengususlkan bagaimana jika brossnya buat hadiah ibu kita. Semua anakpun
setuju, dan sy membagikan potongan kertas lipat untuk membuat kartu ucapan “Selamat
Hari Ibu” dan juga plastik klip untuk mengemasnya.
Setelahnya, saya
bertanya, ingin mainan apa besok? Mereka menjawab, volcanoe atau gunung
meletus. Baik, karena untuk membuat gunung meletus kita butuh malam/ plastisin,
dan saya informasikan bahwa plastisin itu mengandung zat berbahaya, maka saya
tawarkan, kita akan membuat playdough dari bahan alami. Mereka penasaran, dan
semuanya setuju.
Day 6
Lupa jika hari ini hari jum’at, Saya keasyikan main bersama fatih dan teman teman kecilnya. sebelum anak-anak datang Fatih minta belajar basah. air maksudnya. jadilah mianan air derngan pewarna, dan melihat proses perubahan warna.
tak puas bermain air, ganti bermain tulis-tulisan, membuat huruf bersama mas erik. Membuat singkatan inisial nama mereka, yaitu FASE Fatih, Aam, Sofia, Erik :)
Anak2 datang 30 menit lebih lambat. Kelas dimulai dengan peer teaching perkalian dengan metode jarimatika. Kenapa peer teaching, karena saya ketamuan teman-temannya fatih, kakak perempuan kembar 2 dan 1 adek perempuan, bersama ibunya. Mereka seperti anak kembar 3. Dan membuat Fatih dan aam, sofia betah main di dalam rumah karena sibuknya melayani tamu barunya yaang super lucu-lucu. Setelaah peer teaching selesai, dan bahan-bahan membuat playdough. Ada tepung terigu, pewarna makanan, garam, minyak, dan air hangat. Anak-anak usia SD yang hadir 12 orang, yang PAUD 6 orang. Semuanya seru menyimak tutorial membuat playdough. Saya dahulukan anak2 SD untuk tutorial membuat playdough, sementara anak PAUD sibuk bermain aneka mainan dan buku di dalam rumah. Setelah playdough anak2 SD jadi, anak2 PAUD saya tawari untuk membuat playdough dan semua setuju. Baju bagus pun harus direlakan terkena ceceran tepung dan pewarna. Sedangkan anak-anak SD siap membentuk aneka pola dari playdoughnya. Kegiatan akhir sangat dirunggu-tunggu, yaitu membuat gunung meletus. Alat dan bahan diantaranya, nampan, playdough yang dibentuk menyrupai gunung, soda kue, pewarna merah dan cuka. Nampan digunakan sebagai dasar gunung agar larutan cuka tidak tumpah kemana-mana, kemudian soda kue diamasukkan ke lubang playdouhg yang dibuat menyerupai kawah gunung. Selaanjutnya, cuka di tuangkan sedikit, demi sedikit. Dan semuanya mengamati reaksi kimia dari percampuran cuka, pewarna dan soda api yang keluar keatas meletup letup menyerupai lahar gunung berapi. Tilawah menjelang sholat jumat dari masjid pun berkumandang dan kegiatan hari ini selesai.
6 hari membersamai anak-anak membuat saya teringat lagi
tentang Family Project kami, yaitu “DOLAN NANG FATHAtEN” yang rencananya akan
kami mulai awal tahun depan dan acaranya bukan setiap hari, tetapi 2 pekan
sekali. Bagi saya, melihat sumringahnya
membuat tepak, meski itu pertama dan sulit bagi mereka, hasilnya pun tidak
marketable bagi saya, lalu usulan anak-anak di hari ke-lima menunjukkan bahwa
mereka antusias jika beraktifitas di luar formalnya buku dan pensil. Usulan mereka
juga mengindikasikan bahwa mereka ingin kaya
berkegiatan. Fatih juga senang dengan kehadiran mas-mas dan mbak-mbak di
jam bermainnya, sekilas Fatih sekedar melihat-lihat aneka kegiatan mereka atau sesekali
turut pupuk bawang. Ketika ditanya abinya saat jam makan malam (assesmen
harian), dia berbinar menjawab aktifitas dia bersama teman-teman besarnya. Dan kami
yakin ini membuat dia kaya wawasan dari aktifitas disekelilingnya. Emak juga
antusias mendampingi bayi-bayi dan sesekali bercerita tentang pengalaman
jahit-menjahitnya. Dan saya pribadi, melalui kegiatan ini bisa mengukuir
ketahanan jiwa dan fisik saat harus mengadakan acara “DOLAN NANG FATHAtEN”
sambi momong bayi kembar. Saya obrolkan bersama suami selaku kepala sekolah di rumah
sekolah keluarga kami tentaang tiap fase-fase kegiatan selama 6 hari ini, dan
suami berkesimpulan, anak-anak sedang butuh pelajaran real yang nyata hasilnya,
tak sekedar teori-teori di dalam buku dan tanya jawab dalam tiap ujian yang
nilainya selalu susah payah diupayakan memuaskan, demi ijazah tanda kelulusan. Tanpa
rencana, dan tanpa di duga, 6 hari ini
bagi saya adalah masa orientasi dari Allah sebelum menjalankan family project “DOLAN
NANG FATHATEN”. Mungkin ini yang
dinamakan “SEMESTA MENDUKUNG”, demi luru-luru sangu pulang ke alam baka. Gelar almarhum
al marhumah dengan predikat khusnul khotimah dalam Ridlo-Nya. Semoga.












